Keagungan Istighfar
Membaca istighfar adalah wirid yang biasa dilakukan setiap habis shalat. Kebiasaan ini tentunya sangat berpengaruh bagi kehidupan sehari-hari. Istigfar adalah perisai dan menjadi pengakuan atas kelalaian kita dihadapan Allah Taβala.
Bagi sebagian orang, membaca istigfar adalah rutinitas ini adalah warisan luhur orang tua sejak kecil. Bagi yang lain, membaca istighfar adalah kesadaran baru yang ditemukan saat ada di bangku pesantren atau melalui untaian nasihat ustadz dalam sebuah kajian.
Secara etimologi, istighfar bukan sekadar kata maaf. Ia berakar dari kata Arab ghafara, yang berarti menutupi atau menyembunyikan. Masyarakat Arab kuno menggunakannya untuk menggambarkan tindakan menutupi uban dengan pewarna. Bahkan bisa bermakna helm besi pelindung kepala saat perang yang berasal dari akar kata yang sama.
Namun dalam konteks spiritual, para ulama memaknai istighfar sebagai upaya memohon agar Allah menutupi kesalahan kita. Mengampuni dosa kita. Ibarat benih buruk jika dibiarkan, ia akan tumbuh merusak. Istighfar hadir sebagai cara kita memohon agar benih itu ditutupi, tidak berkembang, dan kita terlindungi dari dampak buruknya di dunia maupun akhirat.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Majmuβ Fatawa wa Rasail memberikan jawaban yang menggetarkan hati. Beliau menjelaskan bahwa istigfar setelah shalat adalah pengakuan atas ketidaksempurnaan sebagai manusia dan hamba Allah. Shalat kita seringkali "retak" oleh pikiran yang melayang, was-was yang mengganggu, hingga hilangnya kekhusyukan.
Membaca istigfar setelah melakukan shalat mempunyai banyak keutamaan. Membaca kalimat ini menjadi penyempurna ibadah. Artinya istigfar akan menambal lubang-lubang kelalaian selama berdiri di hadapan Sang Khalik. Selanjutnya membaca istigfar akan terhidar dari sikap ujub atau sombong. Istigfar mengingatkan kita bahwa meski baru saja bersujud, amal tersebut belum seberapa. Ia meruntuhkan rasa bangga diri dan menumbuhkan sifat tawadhu atau rendah hati).
Obat bagi Penyakit Ruhani
Dosa seringkali tidak terlihat, namun dampaknya terasa berat bagi jiwa. Imam Qatadah memberikan penjelasan yang tajam tentang istigfar. "Al-Qurβan menunjukkan penyakit dan obat kalian. Penyakit kalian adalah dosa, dan obatnya adalah istigfar," ungkapnya.
Ibarat debu yang menempel di pakaian setiap saat, manusia mustahil bersih sepenuhnya dari khilaf lisan, mata, dan hati. Di sinilah istigfar bekerja sebagai detoksifikasi ruhani. Ia membersihkan sisa-sisa "debu" yang mungkin tak sengaja kita kumpulkan sepanjang hari.
Menariknya, janji Tuhan bagi mereka yang merutinkan istigfar tidak berhenti pada urusan akhirat saja. Al-Qur'an menggambarkan amalan ringan ini sebagai "kunci multifungsi". Membaca istigfar dapat mengundang rahmat dan kelimpahan harta serta keturunan. Selain itu juga menjadi jalan keluar yang solutif. Selain itu membaca istigfar juga dapat menjadi penenang hati.
Jika Nabi Muhammad SAW yang sudah dijamin surga dan terjaga dari dosa (maβshum) saja masih beristighfar setiap hari, lantas di mana posisi kita? Sudahkan kita istiqomah membaca istigfar dalam keseharian? Tiga kali ucapan "Astaghfirullah" adalah momen kejujuran seorang hamba yang sadar akan keterbatasannya. Sebuah amalan ringan, namun membawa beban makna yang mampu mengubah arah hidup dan menjernihkan jiwa sebelum kembali berhadapan dengan riuhnya dunia.
Penulis: Nurul Huda
Advertisement