Kisah Imam Junaid Bertemu Iblis dalam Mimpi
Dalam malam Baghdad yang tenang, Imam Junaid al-Baghdadi—sang penghulu para sufi—mengalami sebuah mimpi yang mengusik batinnya. Dalam alam bawah sadar itu, beliau berhadapan dengan sosok yang paling dijauhi oleh umat manusia yaitu Iblis. Namun, ada yang ganjil. Namun yang aneh sosok terkutuk itu tampak sangat mengenaskan. Ia berdiri dalam keadaan telanjang bulat.
Tentu pemandangan yang tak lazim itu, Imam Junaid terperanjat. Beliau termenung sejenak dan kemudian bertanya dengan nada menyelidik, "Wahai makhluk terlaknat, tidakkah engkau memiliki rasa malu sedikit pun kepada manusia hingga kau menampakkan diri dalam keadaan hina dan telanjang seperti ini?"
Sambil menyeringai pahit, Iblis menjawab dengan kalimat yang menggetarkan, "Manusia? Siapa yang engkau maksud manusia? Mereka yang uamh engkau lihat di luar sana bukanlah manusia sejati. Bagiku, mereka hanyalah mainan. Namun, jika engkau ingin mencari manusia yang sesungguhnya, pergilah ke Masjid Dazuniyah."
Rasa penasaran Imam Junaid kian memuncak. "Mengapa engkau sampai tampak begitu menderita dan kehilangan harga diri di hadapan mereka?"
"Sebab mereka selalu mencecarku dengan zikir dan membakar seluruh isi dadaku dengan api ketulusan mereka," sahut Iblis sebelum bayangannya memudar.
Terbangun dengan keringat dingin, Imam Junaid tak membuang waktu. Sebelum matahari benar-benar naik, ia segera melangkah menuju Masjid Dzauniyah. Tidak seberapa lama beliau sampai masjid yang menjadi tujuannya., Di dalam keheningan rumah Allah itu, beliau mendapati sekelompok kecil orang yang sedang tenggelam dalam samudera tafakur. Kepala mereka tertunduk dalam di atas lutut, seolah dunia di sekitar mereka telah lenyap. Suasana khusyuk begitu kental menyelimuti setiap sudut ruangan.
Namun, kejutan sesungguhnya baru saja dimulai. Saat Imam Junaid baru saja berdiri memperhatikan mereka, kemudian salah satu dari jamaah itu perlahan mengangkat kepalanya. Matanya yang tajam seolah menembus relung hati sang Imam. Tanpa perlu sepatah kata penjelasan dari Junaid tentang mimpinya, lelaki itu berucap dengan tenang namun berwibawa, "Wahai Junaid, janganlah engkau tertipu oleh omongan si terkutuk itu."
Imam Junaid terpaku. Kalimat singkat itu menjadi tamparan rohani yang sangat keras. Ia menyadari bahwa bahkan dalam mimpi yang menceritakan kebenaran tentang ahli ibadah sekalipun, Iblis tetaplah penipu yang bisa menyisipkan benih-benih kebanggaan atau rasa takjub pada diri manusia. Pesan itu pun menjadi pelajaran abadi bagi Junaid: bahwa mata batin yang jernih tak akan pernah bisa dikelabui, baik oleh setan yang telanjang maupun oleh pujian yang datang dari arah yang tak terduga.
Kisah tentang Imam Junaid al Bagdadi Kisah ini diambil dari kitab Risalah Qusyairiyah karya dari Imam Abdul Karim al Qusyairi an Naisaburi. Kitab ini memuat banyak hal tentang dunia tasawuf atau kesufian ini sangat banyak dikutip dan dipakai oleh para santri maupun intelektual yang ingin belajar tasawuf. Isinya memuat juga petikan kisah hikmah beberapa tokoh sufi seperti Junaid al Baghdadi, Dzun Nun al Misri, Abu Yazid al Bustami dan lain sebagainya.
Bernama lengkap Imam Abu al-Qasim al-Junaid bin Muhammad bin al-Junaid al-Nahawandî al-Baghdadi al-Khazzaz al-Qawariri asy-Syafi'i. Beliau masyhur dengan Al-Junaid al-Baghdadî, lahir di Nihawand, Persia, tetapi keluarganya bermukim di Baghdad, tempat ia belajar hukum Islam mazhab Syafi'i. Imam al Junaid pernah menjadi kepala qadi di Baghdad. Ia belajar ilmu fiqih kepada Abu Tsur al-Kalbi yang merupakan murid langsung dari Imam Asy-Syafi'i.
Penulis: Nurul Huda
Advertisement