Menjemput Keberkahan di Bulan Rajab
Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) mengumumkan bahwa awal bulan Rajab 1447 H jatuh hari ini, Senin, 22 Desember 2025 M.ย Hasil tersebut berdasar dari Pengumuman Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama tentang Awal Rajab 1447 H dengan Nomor 110/PB.08/A.II.11.13/13/12/2025.ย
PBNU menyebut keputusan tersebut berdasar hilal yang tak teramati di seluruh Indonesia pada Sabtu, 29 Jumadal Akhirah 1447 H atau bertepatan dengan 20 Desember 2025 M.
Bagi umat Islam, bulan Rajab adalah ketujuh. Bulan ini penuh suasana spiritual umat Islam mulai menghangat dan sebuah gerbang pembuka menuju kemuliaan yang lebih besar. Secara bahasa, Rajab berasal bermakna kehormatan. Selain itu Rajab dana bermakna sebuah waktu yang disucikan dan dipenuhi keagungan. Sejak alam semesta ini diciptakan, Allah telah menetapkan dua belas bulan dalam setahun, dan empat di antaranya adalah bulan haram atau bulan yang disucikan.
Sebagaimana yang sabda Rasulullah SAW yang menyebut bulan Rajab berdiri di antara Jumadil Akhir dan Syaโban sebagai masa di mana bulan tersebut bangsa Arab kalai itu menjunjung tinggi perdamaian. Di masa silam, peperangan berhenti demi menghormati kesucian bulan rajab ini.ย Namun bagi kita hari ini, pesan moralnya lebih mendalam yaitu Rajab adalah saat untuk berhenti sejenak dari peperangan melawan diri sendiri, meninggalkan kedzaliman, dan menjaga lisan serta perbuatan.
Sungai Surga dan Curahan Rahmat
Ada sebuah gambaran indah mengenai Rajab sebagai bulan "pencurahan". Di sinilah Allah membukakan pintu taubat selebar-lebarnya dan mencurahkan rahmat bagi hamba yang ingin kembali. Sebuah riwayat bahkan menggambarkan Rajab sebagai nama sebuah sungai di surgaโsebuah aliran air yang lebih putih dari susu dan lebih manis dari madu.
Keistimewaan ini bukan sekadar kiasan. Dalam peristiwa Isra Miโraj, Jibril AS mengisahkan kepada Baginda Nabi bahwa keindahan sungai surgawi yang harumnya melebihi minyak wangi itu disediakan khusus bagi mereka yang tak henti membasahi lidahnya dengan selawat serta menghidupkan kecintaan pada Nabi di bulan mulia ini.
Para ulama sering menyebutkan sebuah hadis Nabi Muhammad SAW. "Rajab adalah bulannya Allah, Syaโban adalah bulanku (Nabi), dan Ramadhan adalah bulan umatku." Rajab berfungsi sebagai masa tanam, Syaโban sebagai masa menyiram, dan Ramadhan adalah masa memanen. Inilah momentum bagi kita untuk mempersiapkan fisik dan mental. Tak heran jika doa yang paling sering dipanjatkan adalah: "Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Syaโban, dan sampaikanlah usia kami hingga bertemu dengan Ramadhan."
Selain dikenal dengan peristiwa Isra Miโraj yang agung pada 27 Rajabโsebuah perjalanan spiritual yang menjadi tonggak perintah salat lima waktuโbulan ini juga identik dengan ibadah puasa sunnah. Meski terdapat berbagai riwayat, semangat yang dibawa adalah konsistensi dalam beribadah. Menjalankan puasa di bulan ini bukan hanya soal menahan lapar, melainkan upaya membersihkan jiwa agar benar-benar siap saat tamu agung (Ramadhan) tiba.
Mari Menghidupkan Rajab Jangan biarkan bulan ini berlalu sebagai angka di kalender belaka. Mari mulai melangkah dengan puasa sunnah, memperbanyak istighfar, dan berselawat. Mari kita jadikan Rajab sebagai garis start untuk menjadi pribadi yang lebih bertaqwa. Apakah Anda ingin saya membuatkan jadwal atau daftar amalan praktis yang bisa dilakukan selama bulan Rajab ini?
Penulis: Nurul Huda
Advertisement