Produktivitas Inovasi Jadi Penentu Masa Depan Bangsa
Produktivitas inovasi kini tak lagi sekadar diukur dari banyaknya paten atau hasil riset yang diproduksi sebuah negara. Lebih dari itu, inovasi menjadi penentu daya saing, kedaulatan, hingga posisi tawar suatu bangsa dalam percaturan global.
Pandangan itu disampaikan pengamat geopolitik dan inovasi dari Lab45, Haryadi, dalam catatannya bertajuk Produktivitas Inovasi pada 11 Mei 2026. Menurutnya, produktivitas inovasi adalah kemampuan negara mentransformasi ide kreatif menjadi nilai ekonomi dan sosial secara konsisten.
“Produktivitas inovasi menyangkut kemampuan negara membangun ekosistem pengetahuan, kapasitas adaptasi terhadap perubahan global, hingga kemampuan mengubah kreativitas menjadi daya saing nasional,” ujar Haryadi.
Ia menilai, inovasi pada era sekarang bersifat sistemik. Tidak hanya melibatkan negara, tetapi juga pasar, masyarakat sipil, perguruan tinggi, hingga dunia industri. Bahkan, perkembangan inovasi modern kini sangat dipengaruhi teknologi digital berbasis data seperti artificial intelligence (AI), big data, otomatisasi, dan ekonomi platform.
Menurutnya, inovasi juga memiliki dimensi geopolitik yang sangat kuat. Negara yang unggul dalam inovasi akan memiliki posisi tawar lebih besar dalam kompetisi global. Karena itu, negara tidak mungkin menjadi inovatif jika memilih mengisolasi diri dari jaringan pengetahuan internasional.
“Inovasi sekarang terkait erat dengan transisi energi, pangan, kesehatan, dan pertahanan. Karena itu, produktivitas inovasi menjadi mesin strategis negara untuk mempertahankan relevansi, otonomi, daya saing, dan kesejahteraan,” katanya.
Tak Bisa Lagi Andalkan Tenaga Kerja Murah
Haryadi menegaskan, urgensi inovasi semakin tinggi karena banyak negara tak lagi bisa mengandalkan keunggulan tenaga kerja murah. Inovasi menjadi jalan utama menuju kemajuan ekonomi nasional.
Selain itu, ketegangan geopolitik global membuat kemandirian teknologi menjadi instrumen penting bagi kedaulatan negara. Perubahan iklim dan revolusi AI juga menuntut lahirnya solusi baru yang tak bisa diselesaikan dengan cara lama.
Ia mengingatkan, bonus demografi tanpa inovasi justru dapat memicu meningkatnya pengangguran terdidik, brain drain, hingga beban sosial-politik baru.
“Kalau tidak ada saluran produktif berbasis inovasi, populasi muda bisa berubah menjadi masalah sosial dan politik,” ujarnya.
Lima Langkah Perkuat Produktivitas Inovasi
Haryadi menyebut, ada sejumlah langkah strategis yang harus dilakukan secara simultan untuk memperkuat produktivitas inovasi nasional.
Pertama, membangun ekosistem inovasi nasional dengan menghubungkan universitas, industri, pemerintah, dan investor. Menurutnya, inovasi hanya bisa tumbuh jika seluruh institusi itu terkoneksi kuat.
Kedua, membangun budaya inovatif melalui keterbukaan ide, penghargaan terhadap kreativitas, dan toleransi terhadap kegagalan.
Ketiga, mengembangkan ekonomi berbasis pengetahuan dengan mendorong industri kreatif, AI nasional, green economy, dan digital economy.
Keempat, memperkuat institusi dan tata kelola agar inovasi memiliki kepastian hukum, perlindungan, serta insentif jangka panjang.
Kelima, meningkatkan investasi pada human capital melalui pendidikan berkualitas yang dibarengi penguatan kemampuan berpikir kritis dan jiwa kewirausahaan.
Namun demikian, ia mengingatkan masih banyak hambatan inovasi di Indonesia. Mulai budaya takut gagal, birokrasi yang menghukum eksperimen, hingga “lembah kematian” antara hasil riset dan kebutuhan pasar akibat minimnya dukungan pendanaan awal.
Selain itu, regulasi hukum kerap tertinggal dibanding perkembangan teknologi yang bergerak sangat cepat.
Negara Harus Jadi Orkestrator
Di bagian akhir catatannya, Haryadi menekankan bahwa inovasi bukan lahir secara kebetulan, melainkan hasil desain struktural yang dirancang secara serius.
Karena itu, negara tidak cukup hanya menjadi regulator pasif, tetapi harus tampil sebagai orkestrator transformasi inovasi nasional.
“Produktivitas inovasi muncul dari jaringan institusional yang kuat. Pengetahuan adalah sumber kekuatan utama negara. Ekonomi masa depan sangat ditentukan oleh kapasitas produksi pengetahuan,” tegasnya.
Ia mengingatkan, negara yang gagal mengembangkan produktivitas inovasi akan menghadapi stagnasi ekonomi, ketergantungan struktural, hingga kemunduran geopolitik.
Advertisement