Cara Cegah Gagal Ginjal
Lonjakan kasus penyakit ginjal di Indonesia kian mengkhawatirkan dan menjadi beban finansial yang sangat besar bagi negara. Data BPJS Kesehatan mencatat sebanyak 134.057 pasien gagal ginjal kronis menjalani prosedur hemodialisis atau cuci darah sepanjang tahun 2024. Akibat tingginya angka tersebut, total pembiayaan pengobatan penyakit ginjal kronis membengkak hingga mencapai Rp 11 triliun.
Kondisi ini diperparah dengan temuan Perhimpunan Dokter Spesialis Ginjal dan Hipertensi Indonesia (PERNEFRI) yang mencatat sekitar 200.000 kasus baru penyakit ginjal stadium akhir setiap tahunnya. Berdasarkan edukasi kesehatan yang dikutip dari laman resmi Pelayanan Kesehatan (Keslan) Kementerian Kesehatan (Kemenkes), pasien gagal ginjal kronis kerap menghadapi penurunan kualitas hidup yang drastis akibat gangguan psikologis, rasa pasrah, dan minimnya motivasi untuk menjalani terapi cuci darah secara teratur.
Selain aspek psikologis dan kepatuhan medis, Kemenkes menegaskan bahwa kualitas hidup pasien juga dipengaruhi oleh faktor usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status perkawinan, pekerjaan, hingga dukungan keluarga. Pasien lanjut usia di atas 55 tahun tercatat lebih rentan mengalami komplikasi serius dibandingkan pasien di bawah 40 tahun.
Ragam Opsi Penanganan Medis
Melanisr tulisan Mencegah Gagal Ginjal Dimulai dari Kebiasaan Sehari hari di laman keslan.kemkes.go.id yang ditulis Tim Kerja TU RT Hukum dan Humas - RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten menyebut penanganan gagal ginjal berfokus memperlambat laju keparahan penyakit. Selain itu juga mengendalikan gejala klinis yang dialami pasien. Pendekatan awal dimulai dari penyesuaian gaya hidup secara disiplin, seperti menerapkan pola makan rendah garam dan protein, menjaga berat badan ideal, serta berhenti merokok. Dokter juga meresepkan kombinasi obat-obatan khusus guna mengontrol tekanan darah, menstabilkan kadar gula darah pada pasien diabetes, dan meredakan infeksi pemicu.
Bagi pasien yang mengalami penurunan fungsi organ secara signifikan, tim medis akan merekomendasikan prosedur dialisis atau penyaringan darah melalui mesin di luar tubuh, baik melalui hemodialisis reguler maupun dialisis peritoneal mandiri. Sementara itu, opsi transplantasi organ menjadi langkah pembedahan definitif untuk mengganti ginjal yang rusak dengan ginjal sehat dari pendonor yang cocok.
Namun pasien yang kondisinya mulai membaik dan diizinkan menjalani rawat jalan, pemantauan berkala tetap wajib dilakukan secara konsisten. Pasien perlu rutin memonitor tingkat kreatinin dan elektrolit melalui uji darah di laboratorium, mencukupi asupan cairan harian, berkonsultasi dengan dokter spesialis ginjal dan urologi, serta segera menghentikan obat-obatan yang berpotensi membebani kerja ginjal. Meski demikian, perawatan intensif di rumah sakit tetap harus segera diambil apabila terjadi penyumbatan saluran kemih, kondisi fisik pasien terus menurun, atau timbul komplikasi akut yang mengancam nyawa.
Ketidakteraturan terapi maupun keterlambatan deteksi dapat memicu rentetan komplikasi organ ganda yang berakibat fatal bagi pasien. Rusaknya fungsi ginjal menghambat produksi hormon pembentuk sel darah merah sehingga memicu anemia akut, sementara hubungan dua arah antara ginjal dan jantung meningkatkan risiko gagal jantung serta ancaman henti jantung mendadak akibat lonjakan kalium darah atau hiperkalemia.
Selain itu, penderita rentan mengalami retensi cairan di jaringan tubuh bagian bawah hingga risiko edema paru, disertai kerapuhan struktur tulang karena ketidakseimbangan kadar kalsium dan fosfor. Kondisi ini kian memburuk dengan munculnya asidosis metabolik akibat penumpukan asam dalam darah yang memicu batu ginjal dan kerusakan organ lanjutan, hingga berujung pada komplikasi sekunder seperti depresi berat, kerusakan saraf (neuropati), penurunan fungsi hati, serta infeksi kulit.
Menghindari risiko kerusakan ginjal permanen membutuhkan kesadaran preventif masyarakat sejak dini. Masyarakat diimbau selalu mematuhi dosis obat bebas (seperti ibuprofen dan aspirin) serta tidak mengonsumsi obat keras tanpa anjuran dokter.
Pengelolaan penyakit komorbid seperti diabetes dan hipertensi harus dilakukan secara ketat. Di samping itu, skrining rutin melalui tes fungsi ginjal, hidrasi air mineral yang cukup, olahraga teratur, serta membatasi konsumsi alkohol menjadi pilar utama menjaga fungsi ginjal tetap optimal.
Penulis: Nurul Huda
Advertisement