Di Mata Teman, Adi Sutarwijono Tinggalkan Legacy Kebijaksanaan
Kabar duka menyelimuti keluarga besar DPRD Kota Surabaya setelah Adi Sutarwijono dinyatakan meninggal dunia. Tangis haru sejumlah anggota terjadi saat prosesi upacara penghormatan terakhir di Gedung DPRD Surabaya, Kamis, 12 Februari 2026.
Wakil Ketua DPRD Surabaya, Laila Mufidah, tak mampu menahan air matanya karena kehilangan sahabat yang sudah lama berjuang bersama-sama sebagai anggota legislatif.
Politisi PKB itu mengaku terakhir bertemu Januari lalu saat bersama-sama memimpin rapat paripurna. Setelah itu Awi, sapaan akrab Adi Sutarwijono, sempat meminta dirinya dan pimpinan lain untuk memimpin rapat karena izin istirahat. Kemudian, Awi sempat mengikuti kegiatan Rakernas PDI Perjuangan, setelah itu sudah tidak ada kabar.
βSangat, sangat kehilangan saya,β ungkap Laila dengan haru.
Ia mengaku, Awi merupakan sosok yang baik, santun, dan bijaksana. Selain itu, sebagai Ketua DPRD Surabaya ia juga bisa menjaga kondusifitas membuat proses legislatif berjalan dengan baik tanpa ada konflik kendati ada banyak pikiran berbeda di dalamnya.
βTerus toleransinya itu sangat tinggi. Kalau rapat banggar kedengaran adzan (rapat) diberhentikan dulu. Walaupun kita mau menyelesaikan APBD yang banyak agendanya waktu jumatan, beliau langsung ngomong ini sudah mulai jumatan apa belum gitu,β ungkapnya.
Senada dengan Laila, Reni Astuti Anggota DPR RI yang juga mantan Wakil Ketua DPRD Surabaya, mengaku merasa kehilangan sosok pemimpin yang bijaksana. Menurutnya, Awi telah meninggalkan legacy kebijaksanaan dalam memimpin sebuah institusi.
βMungkin bagaimana menjadi politisi yang merangkul ya. Saya kira itu nilai ya, nilai kepemimpinan yang saya kira bisa menjadi contoh buat politisi-politisi saat ini. Jadi, tidak hanya sekadar gegap gempita tetapi solutif dalam ketenangan untuk memberikan solusi-solusi terkait dengan kebijakan, yang bisa jadi itu tidak ringan gitu ya, tetapi bisa diselesaikan,β kata Reni.
Advertisement