Mahasiswa Magister UNAIR Gaet Peserta Internasional Angkat Isu Pelestarian Budaya Tambak Bayan
Himpunan Mahasiswa Magister Kajian Sastra dan Budaya (Hima MKSB) Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar program berskala internasional bertajuk Cultural and Urban Literature for Inclusive Transformation (CULIT) 2025. Kegiatan ini melibatkan mahasiswa dari berbagai negara. Acara ini fokus pada isu pelestarian seni dan budaya di Kampung Tambak Bayan, Surabaya, yang tengah menghadapi ancaman penggusuran.
Ketua Hima MKSB, Ilham Baskoro, mengungkapkan, CULIT menjadi agenda terbesar organisasi yang dipimpinnya. Program ini didanai langsung oleh Airlangga Global Engagement (AGE) yang mendukung kegiatan akademik bertaraf global.
“CULIT ini adalah program terbesar kami. Tujuannya untuk memberi awareness tentang permasalahan di Tambak Bayan, di mana masyarakat berjuang mempertahankan ruang hidupnya yang terancam digusur, namun mereka melawan melalui seni dan budaya. Ini sejalan dengan nilai-nilai di program magister kami,” jelas Baskoro.
Mengapa Tambak Bayan?
Menurut Ilham, pilihan lokasi di Tambak Bayan bukan tanpa alasan. Secara nilai, kawasan tersebut memiliki keselarasan dengan misi Hima MKSB. Terutama dalam kajian lokalitas dan pelestarian budaya.
Tambak Bayan juga telah memiliki ekosistem seni yang aktif, seperti Artchemist dan Institut Seni Tambak Bayan, yang sebelumnya telah menjalin komunikasi dan kolaborasi dengan pihaknya.
“CULIT ini merupakan kolaborasi dari empat pihak yaitu Hima MKSB, AGE, Institut Seni Tambak Bayan, dan Artchemist Surabaya,” imbuhnya.
Kampung Tambak Bayan sendiri dikenal sebagai salah satu kawasan bersejarah di Surabaya yang dihuni oleh masyarakat keturunan Tionghoa. Di tengah gempuran modernisasi, kawasan ini mempertahankan arsitektur kuno dan tradisi warganya, meski ruang hidup mereka kian terdesak.
CULIT 2025 diikuti oleh sekitar 10 mahasiswa internasional yang berasal dari Pakistan, Gambia, Mesir, Sudan, dan negara-negara di Timur Tengah. Mereka direkrut melalui mekanisme pendaftaran di AGE, kemudian diajak mengikuti rangkaian acara selama tiga hari penuh.
Pada hari pertama, peserta diajak menelusuri seni dan budaya Tambak Bayan dengan berkeliling kampung. Mereka melihat langsung rumah-rumah kuno, mural, dan poster pameran seni dari artchemist yang diletakkan di dalam rumah-rumah warga.
Hari kedua diisi dengan seminar di kampus UNAIR membahas seni dan kultur urban. Hari ketiga menjadi puncak acara yang digelar di Gedung Tha Yang (rumah besar) di dalam kampung Tambak Bayan, sekaligus menjadi momen penutupan.
Baskoro menegaskan, CULIT 2025 memiliki dua tujuan utama. Pertama, meningkatkan kesadaran publik, khususnya mahasiswa dan akademisi, terhadap isu Tambak Bayan. Kedua, menginspirasi akademisi agar lebih terlibat langsung di tengah masyarakat.
“Kita itu memberikan contoh bahwa akademisi itu bisa turun ke masyarakat, membersamai masyarakat sesuai dengan value yang diajarkan di kampus. Sehingga ini juga memberikan arti penting bahwa Hima MKSB itu tidak menjadi menara gading tetapi juga dapat turun ke bawah (masyarakat),” tegas Baskoro.
Menggelar program internasional tidaklah mudah. Baskoro menyebut salah satu tantangan terbesar adalah proses pendanaan. Meski dibiayai AGE, dana tidak langsung diberikan, melainkan harus diperoleh melalui seleksi proposal ketat.
“Kami bersaing dengan puluhan proposal lain yang idenya tidak kalah keren. Setelah terpilih, waktu persiapan yang singkat membuat kami harus cepat menghubungi sponsor, media partner, dan pihak terkait. Syukurlah semuanya bisa terlaksana,” ujarnya.
Baskoro berharap, CULIT dapat menjadi fondasi bagi Hima MKSB untuk menggelar acara yang lebih besar di masa depan.
“Meskipun kami mahasiswa S2, kami bisa menggelar acara sebesar ini, setara bahkan melebihi skala kegiatan anak-anak S1, baik dari sisi akademis maupun lapangan,” tutupnya.
Kesan Peserta Internasional
Salah satu peserta asal Pakistan, Waqas Ahmad, mengaku terkesan dengan pengalaman yang ia peroleh selama mengikuti program CULIT 2025. Menurut Mahasiswa magister dari Universitas Sebelas Maret ini, Tambak Bayan adalah tempat melihat arsitektur Belanda kuno, rumah-rumah tua, dan kehidupan masyarakat Tionghoa yang tetap melestarikan tradisi mereka.
“Saya senang sekaligus sedih, karena mereka tidak punya banyak ruang untuk hidup, tapi mereka tetap mempertahankan nilai sejarah,” ujar Waqas yang sudah setahun lebih di Indonesia.
Ia mengikuti acara ini karena ingin mengetahui sejarah dan dinamika sosial di Tambak Bayan. Termasuk berbagai gerakan progresif di Indonesia pada era 1940-an dan 1990-an.
“Sebagai mahasiswa sastra, saya belajar tentang peran sastra perkotaan dalam melestarikan budaya. Bagi saya, ini sangat berharga dan sepadan,” tambahnya.
Bicara soal budaya Tambak Bayan, ia prihatin dengan kondisi masyarakat Tambak Bayan. Waqas menilai standar hidup di kawasan itu jauh berbeda dibanding daerah lain yang ia kenal.
“Standar hidup mereka sangat berbeda karena mereka tinggal di tempat yang sangat kecil, rumah-rumah yang sangat kecil. Saya tidak bisa membayangkan diri saya dalam kondisi ini, tetapi mereka bisa melakukannya,” ucap Waqas.
Meski begitu, ia mengapresiasi keteguhan warga dalam menjaga budaya. Berdasarkan pengalamannya berkeliling di Tambak Bayan ia kagum dengan budaya dan nilai-nilai masyarakatnya.
“Kalau saya rangkum dalam tiga kata, itu adalah pelestarian budaya, menghormati nilai-nilai, dan mencintai seni,” pungkasnya.
CULIT 2025 menjadi contoh nyata bagaimana akademisi dapat menjembatani ilmu pengetahuan dengan praktik nyata di masyarakat. Kegiatan ini juga memperkaya wawasan peserta, baik lokal maupun internasional, mengenai sejarah dan dinamika budaya perkotaan. Di sisi lain, masyarakat Tambak Bayan mendapatkan dukungan moral dan perhatian publik terhadap isu yang mereka hadapi.
Kolaborasi lintas lembaga yang terjalin juga menunjukkan bahwa upaya pelestarian budaya memerlukan sinergi antara komunitas lokal, perguruan tinggi, dan jejaring global. Dengan dukungan internasional, isu-isu lokal seperti Tambak Bayan dapat dikenal lebih luas dan mendapat dukungan lebih besar untuk mempertahankan identitasnya.
Advertisement