Makna Memaafkan dalam Islam dan Keutamaannya
Salah satu momen penting dari peringatan Idul Fitri adalah saling memaafkan. Pada dari istimewa tersebut kaum muslimin untuk kembali pada fitrah, menyucikan hati, dan memperbaiki hubungan antarsesama. Namun, konsep memaafkan dalam Islam tidak sekadar ucapan “mohon maaf lahir dan batin”. Lebih dalam dari itu, memaafkan adalah ajaran Al-Qur’an dan teladan dari Rasulullah SAW sebagai bagian penting dari ketakwaan dan kematangan spiritual seseorang.
Dalam buku Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (1999), Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab menjelaskan bahwa sikap manusia dalam menghadapi kesalahan orang lain memiliki kedudukan utama dalam ajaran Islam. Beliau menjelaskan menerangkan bahwa istilah “maaf” dalam bahasa Arab memiliki beberapa term, seperti ‘afw, ṣafh}, dan ghafara. Ketiganya memang memiliki nuansa berbeda, tetapi berdekatan dalam makna—yaitu memaafkan dan menghapus kesalahan.
Makna mendalam tentang memaafkan ini ditegaskan dalam QS Ali Imran ayat 134, yang menggambarkan tiga ciri orang bertakwa dalam menyikapi kesalahan orang lain: menahan amarah, memaafkan, dan membalas dengan kebaikan. “(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.” (QS Ali Imran: 134).
Ayat ini tidak hanya menekankan bahwa memaafkan adalah sikap terpuji, tetapi juga menegaskan bahwa Allah mencintai orang-orang yang melampaui sekadar memaafkan—yakni mereka yang mampu membalas perlakuan buruk dengan kebaikan. Di sisi lain, Al-Qur’an juga menegur orang-orang yang bersumpah untuk tidak berbuat baik kepada seseorang yang pernah bersalah. Dalam QS An-Nur: 22, Allah menganjurkan agar seseorang tetap memberi maaf dan melapangkan dada:
“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kerabat(nya), orang-orang miskin, dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
Ayat ini mengajarkan bahwa memaafkan sesungguhnya merupakan cermin harapan manusia atas ampunan Allah. Dengan memaafkan orang lain, seorang hamba sedang membuka pintu bagi dirinya sendiri untuk memperoleh ampunan ilahi. Teladan terbaik dalam memaafkan tentu saja adalah Rasulullah SAW. Beliau dikenal sangat lembut, pemaaf, dan tidak mudah menyimpan dendam. Dalam hadis disebutkan, “Tidaklah Allah SWT menambahkan sesuatu kepada orang yang memaafkan kecuali kemuliaan,” (Al-Muwatta’ karya Imam Malik).
Dalam konteks Idul Fitri, pesan ini menjadi sangat relevan yaitu hamba berusaha “kembali suci” dimana salah satu syarat kesucian itu adalah bersihnya hubungan antarsesama. Syariat pun menekankan bahwa orang yang meminta maaf hendaknya menyesali kesalahannya, bertekad tidak mengulanginya, serta mengembalikan hak yang pernah diambilnya. Hak itu baik berupa materi maupun nonmateri.
Berangkat dari makna inilah, memaafkan bukanlah tanda kelemahan, melainkan menjadi sumber kemuliaan dan kekuatan iman. Bila Rasulullah SAW saja memaafkan orang yang menghinanya, menyakitinya, bahkan yang pernah mengancam hidupnya adalah contoh maka bagi umat Islam. Para sahabat menggambarkan kelembutan Rasulullah SAW begitu indah. Al-Bara’ bin ‘Azib menyebutkan bahwa wajah Nabi lebih mirip bulan yang bersinar daripada pedang yang tajam—gambaran karakter beliau yang penuh kasih, jauh dari sifat pendendam. Lebaran ini adalah momentum spiritual untuk membersihkan hati, memperbaiki hubungan, dan meneladani akhlak Rasulullah SAW. Memaafkan membuat hati lapang, meredakan dendam, serta membuka pintu pahala dan kemuliaan dari Allah SWT. Wallahu a’lam.
Penulis: Nurul Huda
Advertisement