Menikmati Soto Daging Cak Busro di Jalan Kertajaya Tak Perlu Gengsi, Penting Murah Meriah
Makan soto daging di pinggir Jalan Kertajaya, depan terowongan tak perlu jaim atau malu, meskipun makannya ngelesot di trotoar. Sebab, kalau mengandalkan kursi plastik yang disediakan untuk pembeli jelas tak cukup.
βSoal makan itu urusan perut, bagi saya tak perlu jaim atau gengsi, yang penting murah meriah, perut kenyang," kata salah seorang pelanggan Soto Daging Cak Busro, yang terlihat lelah setelah lama antre.
"Kalau makan soto di sini harus sabar, yang antre banyak, karena murah. Dengan uang Rp13.000 sudah bisa menikmati soto campur terdiri atas daging, paru, babat," sambung pelanggan yang lain.
Pelanggan pensiunan pegawai Fakultas Perkapalan ITS yang biasa dipanggil Pak Brewok ini mengatakan, kalau habis bersepeda biasanya sarapannya di Soto Daging Cak Busro ini.
"Mungkin orang lain ada yang malu makan soto kaki lima. Buat saya tidak. Ukuran saya nikmat, yang jualan gak kemproh, dan satu lagi murah," ujar Pak Brewok yang baru melahap semangkok soto daging campur jerohan tambah telur. Dengan teh manis dan dua krupuk blek, Pak Brewok hanya membayar Rp20 ribu.
Bu Umi pelangan asal Jalan Dharmawangsa, menyebutnya soto daging tiban. Karena baru buka menjelang puasa, pembelinya sudah kemruyuk.
"Citarasanya sesuai dengan selera saya," puji Umi.
Sementara waktu telah menunjukkan pukul 07:35 WIB. Sedang di belakang karyawan RSUD Dr. Soetomo Surabaya Karang Menjangan ini, masih puluhan pelanggan yang antre.
Toleransinya hanya sampai pukul 08.00 celetuk Sukidi, pelanggan lainnya. Ia mengaku tahu ada soto murah dari saudaranya Huda yang betugas di Gresik. Penjualnya, Cak Busro sendiri tidak tahu asal mulanya sampai soto dagingnya disukai banyak orang. Pria yang tinggal di daerah Bagong Ngagel, menganggap sotonya biasa-biasa saja tidak ada yang istimewa. Tempatnya juga di pinggir jalan, beratap langit.
"Soto saya kalau dibanding dengan soto legendaris seperti Soto Sulung, Soto Gubeng Pojok, maupun Soto PJKA di Jalan Indrakila, tidak ada apa-apanya. Tempatnya permanen, pelanggannya klimis-klimis. Berbeda dengan yang makan di soto saya. Kebanyakan akar rumput," kata Busro, merendah.
Sebelum mangkal di gerbang Jalan Kertajaya, Busro selama 15 tahun adalah pedagang soto keliling dari kampung ke kampung. Beberapa hari menjelang puasa ketika keluar dari terowongan, menuju Jalan Kertajaya I, tiba-tiba ada yang memanggil. Yang beli tidak satu dua orang seperti biasanya, tapi buanyak.
"Besoknya saya datang lagi, yang membeli makin banyak, malah keterusan sampai sekarang," kenangnya.
Mengingat tidak punya tempat seperti restoran, Busro hanya bisa menyediakan lima kursi plastik untuk lansia. Lainnya ngelesot di pinggir gang. Dari pukul 05:00 sampai 08:00 bisa menghabiskan 100 sampai 150 porsi. Kalau dengan yang dibawa pulang jumlah lebih banyak.
Karena melayani pelanggan seorang diri, Busro harus bekerta tanpa henti. Satu racikan untuk 8 sampai 11 orang. Ketika digoda, katanya punya penglaris dari Gunung Kawi, Busro tertawa ngakak, sinyal rumor itu tidak benar.
"Sebagai seorang muslim saya hanya percaya kepada Allah yang mengatur rezeki setiap orang, kita hanya sebatas ikhtiar," kata Busro.
"Ketika akan berangkat jualan saya membaca basmalah, dan waktu pulang saya megucap hamdalah itu saja rumusnya," ujar Busro, yang mengaku masih jomblo
Soal resep sotonya yang menjadi pengikat atau daya tarik, Busro mengatakan tidak banyak tahu, itu urusan bagian dapur. Ia tugasnya berjualan. Kalau ada komplain soal rasa, atau daging keras ia sampaikan langsung ke bagian dapur.
"Alhamdulillah sampai sekarang belum ada yang komplain, kalau kurang asin atau kurang pedas, itu terkait selera. Mudah mengatasinya, tinggal nambah garam atau kecap asin dan sambal," ujarnya kepada Ngopibareng.id sambil melayani pelanggan yang berjubel.
Advertisement